TVRINews, Bangka Belitung
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat inflasi bulanan (month-to-month) pada Juni 2026 sebesar 0,35 persen, meningkat dibandingkan Mei 2026 yang tercatat 0,06 persen.
Kenaikan inflasi pada Juni didorong oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas, terutama bensin, daging ayam ras, dan angkutan udara.
Sementara itu, secara tahunan (year-on-year), inflasi Bangka Belitung mencapai 2,92 persen, lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang berada di angka 2,46 persen. Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah emas perhiasan, cumi-cumi, dan angkutan udara.
Ketua Tim Statistik Harga BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Desiana Arbani, mengatakan kenaikan harga komoditas energi, pangan, dan transportasi masih menjadi faktor utama penyumbang inflasi di daerah.
"Pada Juni 2026, untuk inflasi month-to-month, andil terbesarnya berasal dari komoditas bensin, daging ayam ras, dan angkutan udara. Sementara untuk inflasi year-on-year sebesar 2,92 persen, penyebab utamanya antara lain angkutan udara, emas perhiasan, dan cumi-cumi," ujarnya.
Dari empat wilayah pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bangka Belitung, seluruh kabupaten dan kota mengalami inflasi secara bulanan.
Secara tahunan, Kabupaten Bangka Barat mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,95 persen, sedangkan Kota Pangkalpinang menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 2,28 persen.
Menanggapi perkembangan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berencana menggelar High Level Meeting (HLM) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk merumuskan langkah pengendalian harga, terutama pada komoditas pangan yang mengalami kenaikan.
Pelaksana Harian Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, M. Yunus, mengatakan salah satu langkah yang disiapkan pemerintah adalah pelaksanaan operasi pasar apabila diperlukan.
"Pemerintah daerah akan segera melakukan High Level Meeting. Biasanya langkah yang diambil adalah operasi pasar, terutama untuk komoditas yang mengalami kenaikan seperti daging ayam. Sementara untuk cumi-cumi kemungkinan berkaitan dengan kenaikan biaya bahan bakar minyak," katanya.
Meski inflasi masih berada dalam rentang sasaran nasional, pemerintah daerah bersama BPS akan terus memantau perkembangan harga berbagai komoditas strategis.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat di tengah dinamika harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi.










