TVRINews, Pangkalpinang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pangkalpinang memprediksi bahwa awal musim hujan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung baru akan terjadi pada bulan November atau Desember mendatang. Kondisi ini dipersulit oleh adanya fenomena iklim El Nino yang diperkirakan masih akan terus mempengaruhi cuaca lokal hingga awal tahun depan, sehingga membuat musim kemarau kali ini terasa jauh lebih kering dari biasanya.
Kepala Tim Data dan Informasi BMKG Pangkalpinang Slamet Supriyadi menjelaskan, apabila fenomena El Nino tersebut masih berlangsung saat memasuki periode musim hujan, hal itu akan berdampak langsung pada menurunnya intensitas curah hujan di wilayah Bangka Belitung. Minimnya curah hujan ini secara nyata telah memicu tingginya fluktuasi kemunculan titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang lonjakannya bahkan tercatat mencapai ratusan titik hanya dalam waktu satu hari.
“Berdasarkan prediksi, musim kemarau tahun ini akan berlangsung jauh lebih panjang dan lebih kering dibandingkan dengan tahun lalu, terlebih dengan adanya dampak fenomena El Nino yang diprakirakan masih akan berlangsung hingga awal tahun depan. Namun, kami memprakirakan pada periode November atau awal Desember mendatang, wilayah kita sudah mulai turun hujan atau memasuki awal musim hujan,” kata Slamet, Selasa, 8 September 2026.
Eskalasi karhutla ini turut diperparah oleh embusan angin monsun timuran yang cukup kencang. Ditambah dengan karakteristik vegetasi serta tipe tanah lokal yang mengering akibat kemarau, kobaran api di area lahan gambut maupun hutan menjadi jauh lebih cepat meluas. Rentetan insiden kebakaran lahan tersebut kini mulai berimbas pada penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah akibat tingginya paparan debu dan kepulan asap.
Guna menjamin keselamatan operasional serta kelancaran arus transportasi, baik pada sektor penerbangan maupun pelayaran, BMKG Pangkalpinang terus menjalin koordinasi intensif lintas instansi. Pemantauan gabungan bersama BMKG Pusat, PT Angkasa Pura, serta AirNav Indonesia tersebut dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam melalui ruang pertemuan virtual. Pihak BMKG juga menyiagakan peningkatan intensitas pengamatan dan siap menerbitkan peringatan informasi penerbangan atau Notice to Airmen (NOTAM) secara cepat apabila terjadi kondisi darurat di ruang udara.
Menyikapi eskalasi cuaca ekstrem dan ancaman karhutla ini, pihak berwenang mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Warga sangat disarankan untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna mencegah gangguan pernapasan akibat polusi asap. Selain itu, masyarakat juga dilarang keras melakukan aktivitas pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara dibakar.










