TVRINews, Babel
PT Pertamina Patra Niaga memastikan ketersediaan stok bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Kepulauan Bangka Belitung dalam kondisi aman dan pasokan terdistribusi secara normal. Meski demikian, maraknya antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dinilai dipicu oleh disparitas atau perbedaan harga yang cukup lebar antara BBM subsidi dan nonsubsidi.
Sales Area Manager Retail Pertamina Patra Niaga Bangka Belitung, Satriyo Wibowo Wicaksono, menjelaskan bahwa ketahanan stok BBM, baik di SPBU maupun di Terminal BBM, dalam kondisi mencukupi.
Ketahanan pasokan Pertalite di Terminal BBM diperkirakan aman untuk enam hari ke depan, sedangkan stok Pertamax berada pada kisaran 10 hingga 11 hari. Dengan ketersediaan tersebut, Pertamina memastikan tidak ada hambatan pasokan dari terminal menuju SPBU.
Satriyo mengungkapkan, selisih harga antara Pertalite dan Pertamax yang mencapai sekitar Rp6.500 per liter mendorong terjadinya pergeseran pola konsumsi (shifting) masyarakat.
Banyak konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi kini beralih ke Pertalite. Kondisi tersebut memicu lonjakan permintaan BBM bersubsidi dan berpotensi menimbulkan penumpukan antrean di SPBU.
Di samping itu, lebarnya perbedaan harga juga rawan membuka celah penyalahgunaan BBM subsidi demi memanfaatkan margin keuntungan dari selisih harga tersebut.
"Ada dua hal yang memang menjadi penyebab utama terjadinya antrean. Yang pertama itu adanya disparitas harga, bisa sampai Rp6.500 per liter. Dan ini menyebabkan adanya shifting dari yang biasa menggunakan mungkin Pertamax, sekarang beralih, kalau bahasa sekarang in-this-economy ya, in-this-economy dia beralih ke Pertalite," ujar Satriyo Wibowo Wicaksono, dikutip Kamis, 5 November 2026.
Pertamina mengingatkan pentingnya pengawasan bersama lintas instansi dan elemen masyarakat agar penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran serta benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang berhak.









