TVRINews, Belitung
Satuan Tugas (Satgas) Operasi Trisila-26 Tahap III TNI AL Tahun 2026 melaksanakan serangkaian kegiatan bakti sosial di wilayah Pos TNI AL Mendanau, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Kegiatan sosial yang melibatkan partisipasi aktif personel ini meliputi aksi bersih pantai, penanaman pelindung abrasi berupa mangrove, hingga pelaksanaan donor darah dengan target pengumpulan sebanyak 40 kantong yang selanjutnya dikelola oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Belitung.
Bakti sosial ini sejatinya merupakan bagian integral dari tugas teritorial TNI AL dalam upaya menjaga kedaulatan dan stabilitas keamanan perairan Indonesia, khususnya di wilayah bagian barat.
Wakil Komandan (Wadan) Satgas Trisila-26, Kolonel Laut (P) Yudy Arie Bintoro, menjelaskan bahwa operasi darat ini melengkapi tugas utama satgas saat berada di lautan, di mana personel dihadapkan pada berbagai potensi ancaman, mulai dari pelanggaran batas wilayah negara hingga tindak pidana maritim seperti penyelundupan senjata, narkotika, dan timah ilegal.
Terkait pelaksanaan dan pembagian tugas operasi tersebut, Kolonel Yudy memaparkan peran utama satgas secara langsung.
"Tugas kami dalam melaksanakan operasi trisila adalah yang pertama melaksanakan penegakan keamanan dan kedaulatan di perairan Indonesia khususnya di wilayah Indonesia Barat ini karena kami berada di wilayah kerja koarmada satu. Kemudian tugas kami yang kedua adalah ketika kami singgah di pangkalan angkatan laut setempat kami melaksanakan berkolaborasi dengan pangkalan angkatan laut setempat melaksanakan kegiatan teritorial di darat," urai Kolonel Laut (P) Yudy Arie Bintoro merinci rangkaian tugas pokoknya, dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
Sementara itu, menyoroti tantangan pengamanan perairan di wilayah yurisdiksinya, Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Bangka Belitung, Kolonel Marinir Yulindo, menyampaikan bahwa letak geografis wilayah kepulauan memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi.
Tantangan TNI AL dalam menjaga keamanan perairan tidak hanya diukur dari luasnya perairan dan banyaknya pulau kecil, tetapi juga posisi strategis yang berbatasan dengan negara tetangga sehingga memicu tingginya celah aktivitas ilegal.
"Secara Indonesia, tapi secara provinsi sangat luas, jalan tikus seperti yang disampaikan sangat banyak, itu adalah tantangan tersendiri bagi kita untuk melaksanakan pengamanan perairan di kepulauan Bangka Belitung. Sepanjang pengetahuan saya bahwa kita Pulau Bangka dan Pulau Belitung itu yang paling besar. Tapi ada sekian ratus pulau-pulau kecil lagi di sekitarnya yang merupakan ya itulah jalan-jalan tikus para pelaku tindak ilegal termasuk penyelundupan keluar ini," tegas Kolonel Yulindo membeberkan realita kerawanan tersebut.
Menghadapi kompleksitas ancaman tersebut, penguatan sistem pengawasan secara berkala dan sinergi yang solid antarinstansi penegak hukum menjadi kunci utama dalam upaya memelihara kedaulatan serta memastikan keamanan maritim di Indonesia.










