TVRINews -- Kabupaten Belitung
Altar Klenteng Pak Kung di kawasan Bundaran Tugu Batu Satam, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, kembali dibuka untuk masyarakat setelah selesai menjalani proses pemugaran. Bangunan bersejarah yang berdiri sejak 1829 itu sebelumnya sempat tidak difungsikan karena mengalami kerusakan akibat faktor usia.
Klenteng Pak Kung, yang dahulu dikenal sebagai Toapekong, merupakan bagian yang masih tersisa dari rumah besar milik seorang Kapiten Cina pada abad ke-19. Bangunan tersebut berfungsi sebagai rumah abu atau tempat pemujaan leluhur marga Ho dan menjadi salah satu jejak sejarah perkembangan komunitas Tionghoa di Belitung.
Sebagai bangunan cagar budaya, Klenteng Pak Kung memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Selain menjadi simbol perjalanan masyarakat Tionghoa di Belitung, situs ini juga mencerminkan kerukunan antarumat beragama dan antaretnis yang telah terjalin selama ratusan tahun.
Pemugaran altar Klenteng Pak Kung bersama Ballroom Billiton City Club dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Tanjungpandan. Revitalisasi kawasan tersebut diharapkan tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga mendorong pengembangan wisata religi dan budaya di pusat Kota Tanjungpandan.
Warga Tanjungpandan, Alex Wijaya, mengatakan kawasan tersebut pernah menjadi pusat aktivitas para saudagar yang berperan besar dalam perkembangan ekonomi Belitung pada masa lalu.

“Tempat ini dulu menjadi lokasi para saudagar berkumpul untuk menggerakkan perekonomian sekitar 200 tahun lalu. Ini menjadi bukti kejayaan Belitung pada masanya. Selain memiliki nilai sejarah ekonomi, kawasan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai destinasi wisata, ruang sosial bagi anak muda, hingga pusat kegiatan spiritual,” ujarnya.
Bupati Belitung, Djoni Alamsyah, berharap bangunan yang telah dipugar mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata.
“BUMD harus lebih kreatif agar bangunan yang sudah direnovasi ini bisa memberikan dampak ekonomi. Kawasan ini dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata baru dengan konsep wisata religi, sekaligus memanfaatkan zona-zona yang belum optimal sebagai sumber ekonomi baru,” kata Djoni.
Senada dengan itu, Ketua DPRD Kabupaten Belitung, Vina Cristyn Ferani, menilai pemugaran Klenteng Pak Kung menjadi bagian penting dari upaya pelestarian sejarah daerah.
“Sekarang Belitung memiliki wisata religi baru. Dahulu tempat ini juga menjadi lokasi berbagai pertunjukan opera dan seni budaya. Sejarah panjang ini harus terus kita angkat dan dikenalkan kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain altar Klenteng Pak Kung, Ballroom Billiton City Club juga dipersiapkan sebagai ruang penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya. Kawasan tersebut akan dikelola oleh BUMD Belitong Mandiri dengan harapan mampu menjadi pusat aktivitas budaya sekaligus destinasi wisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.










