TVRINews, Pangkalpinang
Sejumlah sekolah swasta di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menghadapi ancaman penutupan akibat terus menurunnya jumlah siswa baru dan tingginya beban operasional. Sedikitnya tujuh sekolah tercatat telah tutup atau sedang mengajukan proses penutupan karena tidak lagi mampu menjalankan kegiatan pendidikan secara berkelanjutan.
Beberapa sekolah yang dipastikan berhenti beroperasi di antaranya SMA THB, SMA Depati Amir, dan SMA Albina. Selain itu, SMK Swakarya di Tanjungpandan juga menghentikan kegiatan belajar mengajar karena terkendala masalah lahan. Sementara itu, SMK Karya Parittiga dilaporkan telah mengajukan permohonan penutupan.
Di tengah kondisi tersebut, SMA Swadaya dan SMA PGRI masih mempertahankan kegiatan belajar mengajar. Namun, jumlah peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027 di kedua sekolah itu hanya beberapa orang.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Fery Afriyanto, menilai persaingan antara sekolah negeri dan swasta menjadi salah satu penyebab utama menurunnya jumlah siswa di sekolah swasta. Pertimbangan biaya pendidikan juga menjadi faktor yang paling banyak diperhatikan masyarakat.
"Jadi saat ini ada lima SMA, yang sudah tutup sebanyak ada tujuh ya setotal-totalnya. SMA itu ya SMA THB, SMA Depati Amir, kemudian SMA Albina itu yang sudah pasti tutup, kemudian ditambah lagi di Tanjung Pandan itu SMK Swakarya karena masalah lahan dia akan dia tidak beroperasi lagi. Nah, kalau penyebabnya ya saat ini kan persaingan untuk antara sekolah negeri dengan swasta, kalau masyarakat di kita kan melihat biaya yang pertama. Nah, kalau di negeri relatif tidak berbayar gitu kan, kecuali yang hal-hal yang sifatnya personal. Nah ini yang jadi kendala di swasta," urai Fery Afriyanto, Selasa, 28 Juli 2026.
Selain persoalan biaya, ketimpangan fasilitas pendidikan dan pengelolaan karakter peserta didik turut memengaruhi pilihan orang tua dalam menentukan sekolah bagi anak-anak mereka. Banyak orang tua memilih sekolah negeri karena tidak membebankan iuran bulanan, sementara sekolah swasta masih bergantung pada biaya pendidikan untuk menutupi operasional.
Untuk mencegah bertambahnya sekolah yang tutup, Dinas Pendidikan Kepulauan Bangka Belitung mengimbau setiap yayasan yang berencana mendirikan sekolah baru agar menyusun perencanaan secara matang.
Kesiapan sarana, prasarana, serta sumber daya manusia menjadi aspek penting yang harus dipenuhi agar lembaga pendidikan dapat bertahan dalam jangka panjang. Langkah tersebut juga diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pendidikan swasta di Bangka Belitung sekaligus melindungi lapangan pekerjaan bagi tenaga pendidik di daerah.









