TVRINews, Belitung Timur
Cuaca buruk yang melanda perairan Belitung Timur membuat aktivitas nelayan tradisional terganggu. Angin kencang disertai gelombang tinggi memaksa sejumlah nelayan di Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, menunda aktivitas melaut demi menjaga keselamatan.
Perahu-perahu nelayan kini lebih banyak ditambatkan di tepian pantai. Sambil menunggu kondisi cuaca kembali normal, para nelayan memanfaatkan waktu untuk melakukan perawatan dan perbaikan kapal agar siap digunakan kembali saat musim melaut berlangsung.
Bagi nelayan Burung Mandi, masa angin kencang menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki perahu kater yang menjadi alat utama mencari ikan. Perawatan dilakukan mulai dari pengecatan lambung kapal, memperbaiki bagian yang rusak atau bocor, hingga memeriksa kondisi mesin.
Salah seorang nelayan setempat, Zulkarnain, mengatakan kondisi cuaca saat ini membuat dirinya dan nelayan lain memilih tidak mengambil risiko melaut.

“Sekarang berhubung angin kencang, kami servis kater, perbaiki kapal. Ya seperti mengecat, kalau ada yang bocor ditambal, termasuk perbaikan mesin juga,” ujar Zulkarnain.
Menurutnya, kondisi angin kencang diperkirakan masih berlangsung hingga September mendatang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian nelayan memilih mencari penghasilan alternatif seperti berkebun atau menangkap ikan dan udang di sekitar pesisir.
“Kalau tidak melaut, mungkin berkebun. Kadang kalau bisa mencari ikan di tepi, seperti mukat udang di pinggir-pinggir pantai. Mudah-mudahan ada bantuan selama angin kencang ini,” harapnya.
Meski tidak melaut berdampak pada pendapatan keluarga, para nelayan tetap memilih bersabar menghadapi kondisi alam. Mereka berharap cuaca segera membaik agar aktivitas penangkapan ikan dapat kembali berjalan normal.
Sementara itu, perawatan perahu yang dilakukan saat ini menjadi persiapan para nelayan agar kapal tetap dalam kondisi baik ketika musim melaut kembali dibuka.









