TVRINews, Bangka Belitung
Ketua DPRD Kabupaten Bangka, Jumadi mengaku prihatin terhadap turunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani dalam beberapa waktu terakhir.
Anjloknya harga TBS disebut dipicu rencana kebijakan tata kelola ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah satu pintu yang disampaikan pemerintah pusat.
Kebijakan tersebut dinilai memunculkan ketidakpastian regulasi sehingga memicu kepanikan pasar dan berdampak langsung terhadap petani sawit, khususnya di Kabupaten Bangka.
Lebih lanjut, Jumadi menilai kebijakan ekspor satu pintu pada dasarnya merupakan langkah yang baik karena dapat membuat pembayaran ekspor CPO beserta pajaknya lebih terdata dan terkontrol.
Namun demikian, menurutnya regulasi terkait kestabilan harga TBS juga harus menjadi perhatian pemerintah.
Kemudian ia mengatakan, salah satu langkah agar harga TBS tetap stabil adalah dengan memperkuat kemitraan antara kelompok tani maupun koperasi sawit dengan perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit.
Selain itu, Jumadi menyarankan agar data petani, kelompok tani, dan koperasi diverifikasi oleh Dinas Pertanian. Setelah proses verifikasi, pemerintah daerah diharapkan dapat menerbitkan surat keputusan bupati sebagai dasar kemitraan dengan perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit.
Saat ini, harga TBS di sejumlah pabrik kelapa sawit di Bangka bervariasi antara Rp2.200 hingga Rp2.250 per kilogram. Sementara harga tertinggi tercatat di PT Tata Hamparan Eka Persada dengan kisaran Rp3.000 per kilogram. Namun, kapasitas produksi pabrik tersebut dinilai masih terbatas.
DPRD Kabupaten Bangka bersama Dinas Pertanian berencana memanggil pihak perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit guna mencari solusi agar harga TBS kembali stabil dan tidak terus merugikan petani.
"Kami dari DPRD Bangka sangat prihatin karena kondisi ini akhirnya berdampak kepada para petani. Kami berharap regulasi-regulasi yang berkaitan dengan harga TBS dapat diperjuangkan kembali," jelas Ketua DPRD Kabupaten Bangka, Jumadi.
"Salah satu langkah strategis yang harus dilakukan agar harga TBS tetap stabil adalah membangun pola kemitraan antara petani, kelompok tani, maupun koperasi dengan perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit," lanjutnya.










