TVRINews, Bangka Selatan
Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Bangka Selatan menyebabkan banyak lahan persawahan mengering. Menghadapi kondisi tersebut, sejumlah petani di Desa Rias, Kecamatan Toboali, mengambil langkah adaptif dengan memanfaatkan lahan sawah yang kering untuk ditanami berbagai jenis tanaman hortikultura.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus menambah sumber pendapatan rumah tangga di tengah ancaman kekeringan.
Peralihan komoditas tanam secara sementara ini mulai masif dilakukan para petani sejak masa panen padi berakhir. Sembari menunggu tibanya musim penghujan, masa pascapanen dimanfaatkan untuk membudidayakan sayur-mayur, seperti kangkung, sawi, dan bayam.
Selain untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga, hasil panen hortikultura tersebut turut dipasarkan untuk menopang perekonomian keluarga sehari-hari.
Strategi budidaya sayuran pada musim kemarau ini terbukti mampu memberikan keuntungan finansial yang cukup menjanjikan bagi para petani. Kondisi cuaca yang terik dan minimnya pasokan air membuat ketersediaan sayuran secara umum berkurang. Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya harga jual komoditas hortikultura di tingkat pasar lokal.
Kendati mampu memberikan keuntungan ekonomi yang tinggi, tidak semua petani di kawasan tersebut dapat menerapkan strategi serupa. Praktik budidaya tanaman hortikultura di tengah teriknya musim kemarau saat ini hanya dapat dilakukan oleh sebagian kecil petani yang posisi lahannya berdekatan dengan sumber air.
Sementara itu, sebagian petani lainnya yang posisi lahannya berada di ujung embung atau area terjauh dari sumber air terpaksa membiarkan lahan sawah mereka kosong akibat terkendala ketersediaan pasokan air.
“Di musim kemarau ini, area lahan sawah bisa kami manfaatkan untuk ditanami sayuran, padahal biasanya jika musim hujan kami hanya menanam sayur di bagian galengan sawah. Kami mulai beralih menanam sayuran seperti kangkung, bayam, dan sawi semenjak masa panen padi selesai. Saat ini, harga jual kangkung berkisar antara Rp1.500 hingga Rp1.800 per ikat, dan meskipun harganya terbilang sedikit lebih mahal, pembeli tetap ada. Untuk menghadapi kondisi kemarau seperti sekarang, bantuan yang paling kami butuhkan adalah peralatan pertanian seperti mesin pompa air dan alat semprot.” jelas Suwanda, Petani Desa Rias, dikutip Rabu, 7 Oktober 2026.










