TVRINews, Pangkalpinang
Tingginya volume sampah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, khususnya di Kota Pangkalpinang, terus menjadi persoalan lingkungan yang serius. Setiap hari, diperkirakan sebanyak 100 hingga 150 ton sampah buangan masyarakat bermuara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Parit Enam.
Merespons kondisi tersebut, berbagai gerakan untuk mengurangi tumpukan limbah, baik organik maupun anorganik, mulai digencarkan di Bumi Serumpun Sebalai.
Salah satu langkah konkret diinisiasi Forum Masyarakat Petani (FORMAP) Bangka Belitung yang mengembangkan inovasi pengelolaan sampah organik secara lebih luas.
Dengan menyerap limbah pasar dan sampah rumah tangga, komunitas ini mengklaim berhasil mengurangi hingga 20 persen dari total limbah organik di Kota Pangkalpinang. Limbah tersebut tidak dibiarkan membusuk, melainkan diolah menjadi pakan alternatif, bioenzim, serta pupuk biologis majemuk.
Inovasi pengelolaan limbah ini menjadi alternatif bagi para petani lokal yang selama ini kerap mengeluhkan kesulitan mendapatkan pasokan pupuk.
Penggunaan pupuk biologis hasil olahan sampah dinilai efektif untuk mengembalikan kesuburan tanah kritis yang sebelumnya rusak akibat paparan bahan kimia sintetis.
Lebih dari sekadar solusi ekologis untuk menekan dampak lingkungan, langkah tersebut juga disebut mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar yang diberdayakan sebagai tenaga pengelola harian.
Guna memperluas jangkauan manfaat, FORMAP Bangka Belitung turut menggandeng berbagai komunitas yang bergerak di bidang terkait hingga tingkat desa dan kelurahan.
Integrasi program yang mencakup budi daya pakan alternatif, pengolahan pupuk biologis, hingga pemanfaatan energi terbarukan ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah secara mandiri dapat menekan ketergantungan masyarakat terhadap pasokan dari luar.
Melalui kemandirian pengelolaan sampah dari tingkat desa, kualitas lingkungan diharapkan dapat berangsur pulih. Selain itu, biaya produksi sektor pertanian dan perikanan dapat ditekan yang pada akhirnya diharapkan bermuara pada peningkatan taraf kesejahteraan warga.
“Kami mengelola limbah masyarakat, limbah pasar, dan limbah-limbah lainnya yang bersifat organik untuk dijadikan produk yang bermanfaat. Produk ini kemudian dikembalikan lagi kepada masyarakat untuk mendukung pengembangan ekonomi yang berbasis pertanian. Jadi, bioenzim maupun pupuk padat yang kami produksi ini pada dasarnya bertujuan sebagai wujud nyata kepedulian dan kecintaan kita terhadap kelestarian alam di Bangka Belitung,” jelas M. Syarif Hidayatullah, Ketua Formap Bangka Belitung, Senin, 7 September 2026.










