TVRINews, Pangkalpinang
Pemerintah Kota Pangkalpinang berkolaborasi dengan Lembaga Adat Melayu Tuatunu serta berbagai elemen masyarakat menggelar Festival Nganggung Tuatunu 1000 Pintu 1000 Dulang. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Festival ini menjadi salah satu upaya melestarikan tradisi budaya nganggung sebagai warisan leluhur. Selain itu, kegiatan tersebut turut mendukung pengembangan pariwisata daerah sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
Mengusung tema "Satu Dulang, Beragam Rasa, Seribu Makna", festival menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan. Di antaranya kirab dan nganggung bersama, penampilan marching band, hadrah dan buka lawang, dambus anak rampai bunyi, serta ceramah keagamaan.
Penyelenggaraan festival budaya tersebut juga mencerminkan semangat kegotongroyongan dan sinergitas masyarakat setempat. Tingginya antusiasme warga mendapat apresiasi dari Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin.
"Pagi ini menyelenggarakan festival nganggung di Tuatunu temanya 1000 pintu 1000 dulang.Ini menggambarkan bahwa semakin banyak warga kita yang peduli dengan budaya kita di Kota Pangkalpinang ini sehingga tema 1000 pintu 1000 dulang ini menggambarkan kegotongroyongan kita sinergitas kita baik di dalam masyarakat kita akan menjalin ukhuwah silaturahmi," ungkap Saparudin, Rabu, 26 Agustus 2026.
Selain berbagai pertunjukan dan prosesi budaya, festival ini juga dimeriahkan dengan lomba nganggung yang diikuti 39 regu. Setiap regu diwajibkan membawa masing-masing 10 dulang untuk dinilai oleh dewan juri.
Ketua Dewan Juri Lomba Nganggung Festival Nganggung Tuatunu 2026, Sukma Wijaya, menjelaskan aspek dan bobot penilaian dalam kompetisi tersebut.
"Yang kita nilai dalam lomba kirab nganggung ini, pertama adalah keaslian dari tradisi nganggung. Isi dulangnya, ya dari bentuk dulang, tutup tudung dulangnya, kemudian isinya. Itu isinya kan kalau khas asli Bangka, ada ketupat, lepet, kemudian ada opor atau rendang atau gulai, kemudian ada buah-buahan juga. Kemudian estetika dalam mereka mengatur menu di dalam. Nah kemudian lanjut kirab. Di saat kirab itu, mulai dari cara membawa dulang, ya cara membawa dulang, estetika cara membawa dulang, kerapian, kemudian keindahan, barisan pada saat mereka kirab, kegembiraan juga ya,rasa dalam mereka membawa dulang itu. Jadi sebenarnya lebih kepada bobot penilaiannya adalah di dulang, di kirabnya, dengan membawa dulang tadi," urai Sukma Wijaya memaparkan kriteria penilaian kreasi peserta.
Melalui kemeriahan dan kelancaran Festival Nganggung Tuatunu tersebut, pemerintah dan lembaga adat setempat berharap tradisi nganggung dapat terus dikembangkan dan dilestarikan oleh generasi mendatang.
Selain menjadi sarana pelestarian budaya, festival ini diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.










