TVRINews, Pangkalpinang
Tingkat keterisian kursi penerbangan di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, masih menunjukkan tren positif. Permintaan masyarakat terhadap layanan penerbangan tetap tinggi meski terjadi penyesuaian harga bahan bakar pesawat atau avtur pada awal September 2026.
Pengelola Bandara Depati Amir mencatat load factor penerbangan keberangkatan mencapai 84 persen. Sementara tingkat keterisian kursi untuk penerbangan kedatangan berada di angka 69 persen.
General Manager Bandara Depati Amir, Muhamad Haekal, mengatakan tingginya load factor menunjukkan minat masyarakat menggunakan transportasi udara masih cukup kuat. Menurut Haekal, kondisi tersebut juga terlihat dari adanya maskapai yang menambah frekuensi penerbangan dari Bandara Depati Amir untuk memenuhi permintaan penumpang.
Salah satunya Garuda Indonesia yang menambah frekuensi penerbangan pada Kamis, Jumat, dan Sabtu sore.
“Karena harga minyak dunia maupun avtur tentunya berimbas pada komponen fuel surcharge. Kebetulan kemarin Garuda Indonesia baru menambah frekuensi penerbangan pada Kamis, Jumat, dan Sabtu sore,” ujar Haekal.
Haekal menyebut, penambahan frekuensi penerbangan menjadi salah satu indikator bahwa permintaan penumpang masih terjaga.
“Artinya, kalau ditanya apakah frekuensinya lebih tinggi, ya, memang lebih tinggi. Namun, kalau ditanya apakah ada indikasi pengurangan penerbangan, sejauh ini saya belum mendapatkan informasi dari teman-teman maskapai,” katanya.
Sementara itu, kenaikan harga avtur yang berdampak pada penyesuaian fuel surcharge belum terlihat memberikan pengaruh signifikan terhadap trafik penumpang di Bandara Depati Amir.
Meski demikian, pihak bandara menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampak kenaikan harga avtur terhadap jumlah penumpang. Evaluasi akan terus dilakukan dengan memantau perkembangan trafik penerbangan dalam beberapa waktu ke depan.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menaikkan batas maksimal fuel surcharge hingga 40 persen. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap kenaikan rata-rata harga avtur nasional.
Mulai 1 September 2026, rata-rata harga avtur nasional tercatat Rp23.315 per liter, atau meningkat sekitar 6,5 persen. Kenaikan harga avtur tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi besaran biaya tambahan bahan bakar dalam tarif penerbangan.
Pengelola Bandara Depati Amir memastikan perkembangan trafik penumpang akan terus dipantau untuk melihat dampak kebijakan fuel surcharge sekaligus menjaga kelancaran layanan penerbangan bagi masyarakat.










