TVRINews, Bangka Selatan
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mewaspadai dampak kemarau panjang yang masih berlangsung terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman hortikultura. Kondisi cuaca panas dan berkurangnya ketersediaan air berpotensi mengganggu aktivitas pertanian. Penurunan produksi tanaman hortikultura dikhawatirkan berdampak pada berkurangnya pasokan komoditas pangan di daerah serta memicu kenaikan harga di tingkat pasar.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, menjelaskan tanaman hortikultura sangat bergantung pada ketersediaan air yang stabil untuk mendukung pertumbuhan dan menjaga produktivitas.
Kemarau panjang berpotensi menghambat proses tanam sekaligus menurunkan hasil produksi yang dibutuhkan masyarakat. Kondisi tersebut juga meningkatkan kebutuhan petani terhadap penyiraman dan perawatan tanaman agar tetap dapat bertahan selama musim kering.
Selain berdampak terhadap produksi, berkurangnya pasokan dari daerah sentra pertanian juga berpotensi memengaruhi ketersediaan barang di pasar. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, sejumlah komoditas hortikultura berisiko mengalami kenaikan harga.
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan terus melakukan upaya untuk mengantisipasi dampak kekeringan agar tidak meluas. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan komoditas pangan dan mencegah gangguan terhadap pasokan pangan strategis lainnya.
Pemerintah daerah juga mendorong penguatan langkah antisipasi di sektor pertanian, terutama dalam menghadapi potensi kemarau berkepanjangan yang dapat memengaruhi produksi dan stabilitas harga pangan.
“Dampaknya pertama, harga akan mengalami kenaikan. Kedua, jumlah stok juga akan berkurang. Karena stoknya kurang, kebutuhan akan diambil dari tempat atau daerah lain. Kondisi ini merupakan salah satu dampak dari kemarau panjang, terutama terhadap tanaman hortikultura seperti sayur-mayur, kubis, sawi, dan sebagainya,” jelas Rizvandika, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, Senin, 14 September 2026.










