TVRINews, Belitung
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Belitung mencatat sedikitnya 442 hektare lahan yang tersebar di berbagai wilayah kecamatan hangus terbakar sejak Januari hingga 6 September 2026.
Berdasarkan data rekapitulasi pihak BPBD, luasan lahan yang terbakar tersebut bersumber dari 305 titik api (hotspot). Selain kawasan hutan dan lahan kering, rentetan peristiwa kebakaran ini juga menyasar sembilan unit rumah atau bangunan warga, serta empat titik objek lainnya.
Meskipun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam keseluruhan insiden tersebut, kerugian materiel yang ditanggung oleh warga terdampak ditaksir mencapai angka ratusan juta rupiah.
Kepala BPBD Kabupaten Belitung, Zainal Harison, memaparkan bahwa secara teknis tim pemadam di lapangan tidak menemui kendala yang terlalu serius dalam upaya menjinakkan kobaran api. Namun, tingginya intensitas dan jumlah titik kebakaran yang muncul secara bersamaan menjadi tantangan tersendiri.
Kendala utama yang kerap dihadapi oleh para petugas adalah sulitnya akses menuju titik lokasi kebakaran, mengingat banyaknya medan berupa jalan sempit yang menghambat laju armada pemadam sehingga proses pemadaman memakan waktu lebih lama.
Selain faktor aksesibilitas, operasional penanganan karhutla di Kabupaten Belitung juga sempat terhambat oleh adanya insiden yang mengakibatkan kerusakan pada satu unit armada mobil pemadam kebakaran. Kendati demikian, kendala ketersediaan armada tersebut dapat segera teratasi berkat adanya kolaborasi dan sinergi lintas instansi.
"Kendala utama kami di lapangan saat ini adalah banyaknya titik api yang tersebar. Selain itu, kemarin salah satu armada mobil pemadam kami sempat mengalami insiden kecelakaan sehingga operasional penanganan menjadi kurang maksimal," kata Zainal, Selasa, 8 September 2026.
Guna mempercepat proses pemadaman di berbagai titik rawan, pihak BPBD mendapatkan dukungan penuh dari jajaran TNI dan Polri.
Bantuan tersebut diwujudkan melalui pengerahan sejumlah armada pemadam tambahan miliki aparat keamanan, termasuk pengoperasian kendaraan taktis pemyemprot air atau water cannon. Kolaborasi solid ini terbukti efektif dalam memblokade sebaran api dan mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas di wilayah Kabupaten Belitung.










