TVRINews, Pangkalpinang
Kebijakan pembatalan sejumlah jadwal penerbangan akibat meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menuai keluhan dari calon penumpang di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Kekecewaan pengguna jasa transportasi udara ini dipicu oleh lambatnya penyampaian informasi pembatalan keberangkatan dari pihak maskapai terkait.
Salah satu keluhan disampaikan calon penumpang bernama Dahlia, yang semula dijadwalkan terbang menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Minggu, 6 Septem 2026, pukul 17.10 WIB.
Perempuan asal Sungailiat tersebut mengaku baru mengetahui informasi pembatalan penerbangannya sesaat setelah tiba di area Bandara Depati Amir. Informasi tersebut tidak didapatkannya secara langsung dari pihak maskapai, melainkan melalui unggahan di media sosial Instagram.
Setelah berupaya meminta kejelasan dan berkomunikasi langsung dengan petugas maskapai di bandara, jadwal penerbangan perempuan yang berprofesi sebagai guru tersebut akhirnya dialihkan ke Selasa (8/9/2026) pukul 08.00 WIB.
Terkait perubahan jadwal tersebut, Dahlia secara prinsip tidak mempermasalahkannya karena memahami pembatalan dilakukan akibat faktor alam demi menjamin keselamatan bersama.
Meski dapat memaklumi alasan pembatalan, Dahlia sangat menyayangkan sistem komunikasi maskapai yang dinilainya belum optimal dan terkesan lambat.
Ia berharap seluruh maskapai ke depannya dapat meningkatkan kualitas layanan komunikasi, khususnya dalam memberikan pemberitahuan secara cepat dan tepat sasaran.
Menurutnya, informasi yang disampaikan lebih awal sangat penting agar calon penumpang memiliki waktu untuk mempersiapkan diri dan tidak merasa dirugikan karena telanjur datang ke bandara.
“Saya sampaikan kepada pihak maskapai, minimal informasi dan komunikasi itu harus diutamakan agar pelanggan tidak kecewa seperti ini. Sebagai maskapai besar dan saya juga pelanggan setia, seharusnya penyampaian informasi bisa dilakukan dengan lebih cepat dan sigap. Pada akhirnya, jadwal penerbangan saya dialihkan menjadi tanggal 8 pukul 08.00 pagi. Mau tidak mau saya harus mengikhlaskannya dan memutar otak agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Terpaksa saya harus melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari Bangka, karena murid-murid saya sudah menunggu di Jakarta.” Jelas Dahlia, Calon Penumpang, dikutip Senin, 7 September 2026.










